Tuesday, March 20, 2007

Persepsi Wanita

Membicarakan dunia wanita menjadi isu yang tak pernah usai dan selalu berakhir dengan "tanda tanya". Ketidakmengertian tersebut selalu menarik bagi kita untuk menyelami keindahan makhluk "wanita" dengan segala karakter yang sulit ditebak. Problem yang tengah dihadapi oleh laki-laki ialah kebingungan untuk memahami keinginan wanita. Wanita adalah makhluk yang membuat laki-laki tidak bisa hidup tanpa dirinya, tetapi dalam waktu yang sama tidak bisa hidup bersamanya. Problem untuk menngetahui keinginan wanita tergambar kebingungan mencari jawaban pertanyaan Siapa wanita dan apa yang menjadi inginnya, bagaimana cara memenuhi harapannya, cara membahagiakan wanita. Mengapa kemauannya sulit ditebak, bagaimana menyingkap tabir perilakunya. Rahasia untuk mengungkap apa yang menjadi keinginan hatinya, merupakan perjalanan panjang dalam merambah hutan belantara yang gelap. Pencarian cinta yang bayak menjadi cerita legendaris mewarnai kisah pertarungan hidup dengan percik cinta wanita. Seiring zaman modern, wanita banyak menjadi komoditas untuk diangkat sekaligus dijatuhkan pada saat yang sama. Perbincangan melindungi dan memanfaatkan wanita pada dinamika global mencerminkan internalisasi wanita dalam rajut jaring kapitalisme.
Selalu saja ada bentuk dan model baru yang menindas wanita dengan eksploitasi, diskriminasi atau memoles tradisi dengan bentuk lain. Sebuah pencarian panjang yang meracau dan memusingkan laki-laki dan wanita. Nietszche mengungkapkan persepsi tentang wanita dengan mengutip pendapat gurunya Sartre; "sesungguhnya kaum laki-laki bertugas menghadapi peperangan dan pertempuran, sedangkan kaum wanita harus siap dinikahi oleh kaum agresor laki-laki. Jika melakukan selain itu berarti mereka melakukan kebodohan dan kesesatan". Wanita adalah teka teki abadi. Nietszche mengungkapkan dalam Thus Spoke Zarathustra. 1933, hal 57-58.
Wacana agama memposisikan wanita secara beragam. Kalangan agamawan banyak berbeda persepsi menjelaskan kedudukan wanita. Pandangan ulama’ Islam klasik sangat dipengaruhi oleh tradisi, budaya dan sosial dimana ia tinggal. Dalam peradaban Islam tradisi dan budaya memegang pengaruh yang luas dalam membatasi wanita dalam hukum, transaksi muamalah, dan ritual keagamaan hanya berdasarkan jenis kelamin. Pada sejarah Muhammad, beliau mampu mengubah relasi wanita dari kondisi perbudakan menjadi orang yang dimuliakan. Banyak tokoh wanita muncul menjadi agent perubahan yang menguasai jazirah arab, seperti ketokohan Siti Khotijah yang menjadi ikon pembisnis yang sangat berpengaruh luas. Siti Aisyah yang mampu menguasai wacana keislaman dalam bidang hadis shahih. Namun, kemajuan itu akhirnya mengalami kemunduran seiring budaya patriarkhi yang melanggengkan keterpasungan wanita. Di timur tengah wanita masih mengalami diskriminasi peran publik karena tradisi Arab menekankan wanita pada kesejahteraan keluarga. Wanita berperan dalam posisi keluarga sebagai perwujudan rasa cinta dan sifat keibuan. Kedua sifat inilah yang menjadi teka-teki terakhir wanita di tempat tertentu untuk mengenali perannya.
Perbedaan biologis antara laki-laki dan wanita sering dibedakan perlakuan orang tua kepada mereka. Anak laki-laki mendapat prioritas menguasai dunia, sedangkan wanita sering kali menjalani kehidupan dengan inferioritas (minder). Secara nyata, dalam kelahirannya banyak orang tua yang berkeinginan untuk memiliki anak laki-laki sebagai anak pertama. Bahkan dalam tradisi Islam, ada hadits yang menyebutkan bahwa sunnah mengeluarkan aqiqah bagi anak yang baru lahir dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak wanita.
Pembagian ini berdampak pada tradisi Arab untuk melebihkan peran laki-laki dan menyudutkan wanita. Sejarah anak puteri Umar bin Khattab harus dikubur hidup-hidup karena berjenis kelamin wanita. Namun disisi yang lain, banyak tokoh wanita yangdipuja sebagai ratu yang disembah dan mempunyai pengaruh besar pada kerajaan tertentu. Wanita juga dipersepsikan sebagai tukang sihir yang kejam yang menghipnotis kepentingan laki-laki, sehingga harus ditaklukkan dengan menghilangkan karakternya sebagai makhluk yang "aneh". Wanita menjadi tawanan sampai batas yang besar.
Realitas biologis dalam konteks eksistensial, ekonomi, psikis, dan sosial. Sejak awal, struktur wanita menjadi sasaran pergulatan psikis yang dalam antara perhatian terhadap dirinya sendiri dan pengabdiannya terhadap kemanusiaan. Sebagian kejenuhan psikis yang akan kita temui pada wanita, biasanya merupakan akibat dari pergulatan laten pada diri wanita antara kedudukannya sebagai "individu" dan bagian dari "jenis" manusia. Sementara laki-laki hampir hidup untuk dirinya sendiri tanpa merasa terbelenggu manusia. Maka, wanita adalah makhluk tawanan bagi kekuatan "penindas" yang menggerogoti dirinya. Dan kekuatan itu adalah manusia seperti terungkap oleh Simone de Beauvoire, Le deuxieme sexe, Gallimard Paris, 1949, 64-69. Bahwa wanita ialah makhluk yang misterius. Dalam pandangan behaviorisme, Wanita berbeda dalam memandang dirinya karena terbentuk oleh lingkungan dan pendidikan dalam menjalani hidup.
Struktur biologis berperan penting memahami perilaku wanita dalam sebagian besar hidupnya, seperti gejala pasivisme, masochisme dan narcisisme "objek cinta". Kehidupan psikis wanita didasarkan atas keserasian atau keseimbangan antara "cinta diri" dan "upaya menyakiti diri sendiri". Kehidupan biologis wanita memberikan beban, derita dan pengorbanan yang besar bagi dirinya sendiri. Bahwa wanita menanggung derita dan siap berkorban merupakan hal penting bagi wanita sebagai konsekwensi dari fungsi reproduksinya. Bagi wanita yang mengalami kehamilan dan melahirkan merupakan proses yang mengalami rasa sakit dan gembira setelah melahirkan anak.
Bermesraan dengan diri sendiri (narcisisme) bagi sebagian wanita merupakan bentuk lain dari diri wanita. sebagai objek cinta yang ingin mendapatkan perhatian dari laki-laki dan orang lain. Nietszche memandang bahwa "sesungguhnya semua yang ada pada wanita adalah teka teki. Satu-satunya solusi bagi teka teki itu adalah melahirkan. Bagi wanita, laki-laki hanyalah sarana, sedangkan tujuan utama adalah anak. Laki-laki diciptakan untuk berperang dan bertarung, sedangkan wanita diciptakan untuk cinta dan anak. Oleh karena itu, kebahagiaan laki-laki adalah pernyataan : aku ingin, sementara kebahagiaan wanita adalah pernyataan ; dia Ingin . jika memahami persepsi tersebut tentang wanita adalah prinsip menguasai hidup wanita dengan menghilangkan kepercayaan diri wanita untuk produktif diberbagai bidang. Problem wanita adalah perasaan bingung antara kemerdekaan seperti yang ia peroleh dimasa kanak-kanak dan "ketundukan" yang menjadi keharusan sebagai wanita. Hal itulah menyebabkan sebagian wanita menarik diri dari masyarakat, dan tidak lagi hidup dengan eksistensi khusus sebagai ego untuk bekerjasama dengan orang lain. Bahkan wanita bersikap sebagai orang lain (l’autre) yang menawarkan diri, mejeng, dan bersandiwara dihadapan laki-laki, sehingga menarik perhatian mereka yang akhirnya menjadi objek.
Menafsirkan wanita tidak cukup hanya dengan menganalisa organ tubuhnya atau menafsirkan hubungannya dengan berbagai fungsi tubuh atau berpendapat bahwa wanita selalu mengabdi bagi kemanusiaan, tanpa menganggap struktur biologis dari fisik wanita sebagai "nasib’ kaku seakan-akan alam sendiri yang mampu menafsirkan semua perilaku wanita. Pandangan para wanita tentang dirinya seperti yang diungkapkan Kartini bahwa untuk mengenal wanita, langkah pertama harus bisa menghargai perasaannya. Wanita sebagai manusia mempunyai nilai-nilai yang bergerak kearah universal yaitu; ketulusan, keselamatan, keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan dan kebenaran. Prinsip kejujuran dalam berkomunikasi terbuka untuk memahami wanita merupakan syarat mutlak bagi keharmonisan hubungan. Rasa menghrgai sesama adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Pemberian rasa untuk menolong, membantu dan toleransi adalah wujud rasa penghargaan yang mulia.
Menghargai wanita sebagai makhluk yang berpikir dan memiliki perasaan akan mendorong mewujudkan perilaku santun kepada wanita. Penghargaan tersebut akan berimplikasi pada terbukanya teka-teki secara perlahan dengan saling mengenal secara intensif. Untuk mencapai kebahagiaan bukanlah anugrah yang datang secara tiba-tiba, tetapiia merupakan hasil pengalaman panjang dan usaha terus menerus. Mengerti wanita tidak bisa langsung melakukan persepsi dari "kacamata" laki-laki. Janganlah kamu sekalian mengikuti persepsi atau prasangka kamu sekalian, karena kebanyakan prasangka adalah jelek dan tidak benar. Menilai wanita jangan hanya dari cover "sampul" saja, namun lebih dimengerti dari riwayat kehidupan yang telah berjalan membentuk kebiasaan wanita...
Riwayat kehidupan seseorang wanita akan mampu mengenali segala inginnya mencapai kemurnian yang lengkap. Membaca riwayat kehidupan wanita dimulai dari bagaimana menjalani masa kanak-kanak, masa pubertas dan rumah tangga. Perjalanan tersebut menceritakan data akurat yang meliputi relasi wanita dalam keluarga, prestasi, kegagalan dan harapannya. Latar belakang keluarga dan tradisi akan membantu mengenali kebiasaan wanita ditempat dan seting tertentu. Pada komunitas wanita dewasa adalah komunitas yang lemah dan masyarakat menganggap lebih rendah dari komunitas laki-laki. Perilaku moral wanita ditentukan oleh lingkungan dan pendidikan. Dengan memahami perjalanan hidup dan pengalaman wanita akan lebih mudah untuk mengenal dan mengerti.

No comments: